Jumat, 13 Februari 2015

AL QURAN : Belajar Membaca

post by Rosilawati Febten

> Rosululloh bersabda :"Barang siapa mengajarkan kpd anaknya satu ayat al Qur'an mk hal itu lbih baik bginya drpd ibadah slama seribu tahun yaitu bpuasa disiang haridan solat dmalam hari slama seribu tahun dan lbih baik baginya drpd seribu dinar yg ia sdekahkan kpd kaum fakir miskin". (Abu Hurairah)

> "Bacalah oleh kalian al Qur'an, ssunggunya al Qur'an akan mberikan syafaat bg para pemiliknya (org2 yg suka mbcanya.pen)pada hari kiamat".Rosululloh bsabda:"Barang siapa yg mbaca satu huruf dr al Qur'an, mk baginya satu kebaikan dan stiap kbaikan sama dg sepuluh kebaikan. Hendaklah sseorang mbaca al Qur'an krn keutamaan mbacanya d untuk mdptkan bbagai kebaikan, bkn u,tuk mdapatkan dunia"

PELAJARI AL QUR’AN
Sudahkah Anda Membaca Al-Qur’an Hari Ini?.
Berapa Ayat yang Anda Baca Hari Ini?
Berapa Ayat yang Anda Pahami Hari Ini?
Berapa Ayat yang Anda Renungkan Hari Ini?
Sudahkah Anda Mengamalkannya?
Sudahkah Anda Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur’an?..

Hidup Terindah Adalah Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur’an.. Tidak Ada Yang Lebih Indah Dari Itu.. Hidup Yang Penuh Kepastian.. Kehidupan Selain Itu Adalah Semu.. Orang Beriman Selalu Rindu Al-Qur’an.. Cinta Allah Berarti Cinta Al-Qur’an.. Dibaca, Dipelajari, Direnungkan dan Diamalkan..

Mari Kembali Ke Al-Qur’an..
Bacalah oleh kalian al Qur’an. Sesungguhnya Al Qur’an akan memberikan syafaat bagi para pemiliknya (orang-orang yang suka membacanya, pen) pada hari kiamat.”.

>Rasulullah saw. bersabda :"Barangsiapa hendak berdialog dengan Allah s.w.t. maka bacalah Al-Quran"
>Rosul saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan sama dengan sepuluh kebaikan.” Hendaklah seseorang membaca al Qur’an karena keutamaan membacanya dan untuk mendapatkan berbagai kebaikan bukan untuk mendapatkan dunia.”
>Rasulullah saw bersabda: "Bacalah Al-Qur'an dan menangislah, apabila kamu tidak menangis maka usahakan seakan-akan menangis (karena ayat yang engkau baca)." (HR. Al-Bazzar).
>Riwayat dari Utsman ibn Affan r.a. berkata :Rasulullah saw bersabda :"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran lalu mengajarnya."
>Rasulullah saw bersabda:"Kau pergi dipagi hari lalu kau belajar satu  ayat dari Kitab Allah s.w.t. (AL-QURAN), sungguh hal itu lebih baik  bagimu daripada engkau lakukan sholat  seratus rakaat."
>Rasulullah saw bersabda :"Barangsiapa mengajarkan kepada anaknya satu ayat Al-Quran maka hal itu lebih baik baginya daripada ibadah selama seribu tahun, (yaitu) berpuasa disiang hari dan solat dimalam hari selama seribu tahun dan lebih baik baginya daripada seribu dinar yang ia sedekahkan kepada kaum fakir miskin".[Abu Hurairah].
>Rasulullah saw bersabda: "Bacalah Al-Qur'an dan menangislah, apabila  kamu tidak menangis maka usahakan seakan-akan menangis (karena ayat yang  engkau baca)." (HR.all-Bazzar).

Keutamaan membaca al Qur’an,
Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Alloh menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).

Di dalam sebuah ayat Al-Qur'an, Allah Ta'ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih:" Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'" (QS. Al-Isra': 109).

Carilah hatimu sewaktu membaca al Qur’an
Jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan sholat.
Jika tidak ditemui, carilah hatimu ketika duduk bertafakur mengingati mati.
Jika kau tidak temui juga, berdoalah kepada Allah minta hati yang baru."

Adab membaca AlQuran :
Ibnu Katsir menyebutkan : "Hendaknya tidak menyentuh Al Quran dan tidak membacanya kecuali dia dalam keadaan sudah bersuci, bersiwak sebelum membacanya, memakai pakain yang terbagus, menghadap kiblat, berhenti membacanya ketika menguap (ngantuk), hendaknya tidak memutus bacaan dengan perkataan kecuali bila perlu, hendaknya konsentrasi, ketika membaca ayat yang menjanjikan hendaknya meminta, dan ketika membaca ayat tentang ancaman hendaknya meminta perlindungan, hendaknya tidak meletakkan Al Quran dibawah dan tidak meletakkan sesuatu diatasnya, hendaknya tidak mengeraskan sebagian bacaan atas bagian lainnya, hendaknya tidak membaca dipasar dan tempat-tempat keramaian".

> BagaimanaQuran itu dibaca : Anas RA ditanya  tentang bacaan Nabi Saw, dian menjawab: Beliau membaca panjang, ketika membaca بسم الله الرحمن الرحيمmemanjangkan بسم الله,memanjangkan الرحمن dan memanjangkan الرحيم  (HR. Bukhari).
> Dilipatgandakanpahala bacaan : setiap orang yang membaca Al Quran dengan ikhlas karena Allahmaka itu berpahala, tapi pahalanya itu dilipatgandakan ketika dia menghayatidengan hati dan memahami yang dibaca, satu huruf berpahala sepuluh kebaikansampai tujuh ratus kali.
> Standarayat yang dibaca dalam sehari semalam : para sahabat Nabi Saw menjadikan ukurantertentu pada diri mereka masing-masing setiap hari, dan satupun dari merekayang menghatamkan Al Quran kurang dari 7 hari, bahkan ada larangan menghatamkanAl Quran kurang dari 3 hari.

Saudarakuhendaklah kalian untuk menggunakan waktumu untuk membaca Al Quran, dan jadikanuntuk dirimu ukuran setiap hari dan jangan kamu tinggalkan itu walaupun dalamberbagai keadaaan, sedikit yang dilakukan terus menerus itu lebih baikdibandingkan dengan banyak tapi terputus-putus.

Bila anda lupaatau ketiduran maka gantilah pada keesokan harinya. Rasulullah Saw bersabda :“Barang siapa yang tertidur dari amalannya atau sebagian darinya kemudian diamembacanya antara shalat subuh dan shalat dzuhur maka baignya pahala seakan diamembacanya dimalam hari”( HR.Muslim),
Dan janganlahkamu meninggalkan Al Quran, atau melupakannya dengan cara apapun. Sepertimeninggalkan bacaannya, tartilnya, menghayatinya, mengamalkan isinya, ataumeminta kesembuhan dengannya.

Diterjemahkandari kitab : Tafsir Al Usril Akhir min kitab zubdatut tafsir
Karangan Syaikh DR. Muhammad bin Sulaiman Al Asyqar.Cetakan ke 9 tahun 1425 H

Adab-adab batin (dalam hati):
• Ketika membaca AlQur’an, bacan itu harus ikhlas untukAllah SWT.
• Bertekad kuat untuk bertaubat kepada Allah SWT. dan selalumenghindari maksiat.
• Ketika membaca Al-Qur’an anak harus menghadirkan hati danmembuang sejauh-jauhnya setiap perkataan hati.
• Selalu merenungkan dan memahami makna ayat-ayat yangsedang dibaca.
• Hendaknya hati anak memberikan reaksi terhadap setiapperkara yang terkandung dalam ayat yang dibacanya.
• Tunduk dan khusyuk kepada Allah dan memperbanyak doasetiap selesai membaca Al-Qur’an. Karena doa sangat membantu anak dalammenghafal Al-Qur’an.
• Terbiasa dengan membaca 1 juz tiap harinya. Sertamenjadikan bacaan dzikir pagi dan sore sebagai rutinitas harian yang tak pernahterlewatkan.
• Senanatiasa menjaga dan memperbanyak istigfar.
• Jangan sampai anak menjadi sombong karena Al- Qur’an yangdihafalnya. Adab-adab Lahiriyah:
• Bersuci dan bewudhu sebelum tilawah Al-Qur’an
• Menghadap kiblat ketika tilawah Al-Qur’an
• Jika memulai dari awal surat hendaknya membaca“A’udzubillahi minasy syaithonirrojim, bismillahirrohmanirrohim”.
• Selalu rutin membca Al-Qur’an setiap hari agar tidakmelupakan ayat yang sudah dihafalnya.
• Tidak memotong tilawah dengan perkataan yang tidakbermanfaat
• Hendaknya semampu mungkin memperindah bacaan Al-Qur’an.
• Menghormati mushaf Al-Qur’an dengan tidak meletakkannnyadi lantai dll.
• Memilih tempat yang bagus untuk tilawah. Seperti masjidatau tempat yang enang di dalam rumah.
• Memilih waktu yang bagus untuk tilawah. Terutama waktuyang Allah menampakkan diri pada hamba- hambanya yang sholih.
Itulah cara bagaimana mgajarkan Al-Qur’an kepada anak denganbaik. Dan Islam sungguh sangat memperhatikan dalam hal ini agar para orang tuamengenalkan dan mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka. Karena ia termasuk kitabsuci umat Islam dan firman Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sawmelalui perantara Malaikat Jibril untuk di sebarkan kepada umat Islam sebagaipedoman hidup mereka.

MENGAPA KITA MEMBACA AL-QURAN MESKIPUN KITA TIDAK TAHU ARTINYA
Bismillahi Rahamani Rahiim...
Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yang masih muda.
Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya da...n mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.
Suatu hari sang cucu nya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku.
Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An?

Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab,
” Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah.
Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,”
maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi.
Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!”
Jawab kakek :” Jadi kamu pikir percuma?” ... ” Lihatlah keranjangnya. ”

Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam.

kakeknya berkata:” Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam.Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”. Seperti sabda Nabi Muhammad( SAW) :
” Bagi siapa saja yang membawa kebaikan maka akan mendapat ganjarannya”

Semoga Bermanfaat...Jazakumullahu Khairan Kashiir.
Cara Termudah Menghafal Al-Qur`an Al-Karim
Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Al Qur’an merupakan salah satu mu’jizat yang turun kepada Muhammad SAW dan diwariskan kepada umatnya dan keasliannya akan terus terjaga sepanjang zaman. Allah SWT berfirman :"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al Hijr:9)
Qur’an memiliki banyak sekali kelebihan, selain itu Qur’an juga sangat bermanfaat bagi manusia. Orang yang sering membaca Qur’an akan sangat berbeda dengan orang yang jarang bahkan tidak pernah sama sekali membacanya. Itu baru sebatas membaca. Apalagi jika Qur’an tersebut dihafal, maka bi iznillah manfaatnya akan selalu menyertai orang yang menghafalkannya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran.

Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.

JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.

BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.

Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.

APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”فَمِي بِشَوْقٍ“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
- Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
- Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
- Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
- Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
- Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
- Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
- Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.

BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]

Tehnik Menghafal dan Murajaah Al Quran
Assalamualaiku wr.wb.
Bagi para penghafalAl Quran yang pemula, menambah hafalan mempunyai kesulitan tersendiri. Tetapi seiring dengan waktu kesulitan ini akan terlampaui. Ketika itu kesulitan lain timbul yaitu mengulang hafalan (murajaah). Pada saat hafalan makin bertambah banyak, murajaah juga semakin berat. Untuk surat-surat yang agak panjang (50 ayat) dan yang panjang (diatas 100 ayat), biasanya kita sangat hafal separuh awal dari surat tersebut. Untuk separuh terakhir sulit bagi kita untuk mengingatnya. Ini akan ditandai dengan “macet” ketika saat memurajaah. Mengapa hal ini terjadi?

Hal ini disebabkan kita selalu menghafal/murajaah dari awal surat (ayat 1). Ketika selesai menghafalkan sebuah surat, ayat-ayat awal itulah yang lebih sering dilafadzkan dibandingkan dengan ayat-ayat yang akhir. Sehingga otak kita lebih hafal ayat-ayat awal. Itulah sebabnya kita sangat hafal ayat-ayat awal surat dan sering lupa pada ayat-ayat akhir surat.
2). Ketika kita „macet“ sulit bagi kita untuk mengetahui ayat selanjutnya. Ayat-ayat setelah „ayat macet“ menjadi gelap. Ini dikarenakan kita menghafal secara sekuensial/berurutan, sehingga satu ayat selalu diingat setelah ayat sebelumnya. Sehingga kalau ayat “sebelumnya” macet maka ayat selanjutnya menjadi hilang juga. Dalm hal ini tidak ada cara lain untuk mengingatnya selain membuka mushaf Al Qur’an.

Lalu bagaimana cara efektif untuk menanggulangi masalah tersebut?

Kuncinya adalah ketika proses menghafal sebuah surat dilakukan. Hafalkan surat dengan cara memotongnya menjadi 10 ayat 10 ayat. Di dalam tiap sepuluh ayat potong-potong lagi menjadi 5 ayat-5 ayat.
Misalnya kita menghafal surat An Naba yang didalamnya ada 40 ayat.

Caranya adalah sebagai berikut :
1.Hafalkan ayat 1sampai lancar. Lakukan sampai ayat 5.
2.Kemudian hafalkan secara berurut ayat 1 sampai dengan ayat 5.
Ikatlah ayat 1 sampai ayat 5 dengan mengulang-ulangnya bersama-sama sampai lancar. Gerak-gerakkan jari-jari tangan anda sesuai dengan ayat yang sedang di hafal.
Bila menghafal ayat 1 gerakkan ibu jari, ayat 2 gerakkan jari telunjuk, ayat 3 gerakkan jari tengah, ayat 4, gerakkan jari manis dan ayat 5 gerakkan jari kelingking.

3.Kemudian hafalkan ayat 6 sampai 10 sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangan kiri sama seperti yang dilakukan oleh tangan kanan. Ulang-ulang ayat 6 sampai 10 sampai lancar.
Kegiatan ini mengikat ayat 6 sampai dengan ayat 10
4.Sekarang mengulang menghafal ayat 1 sampai 10 dengan sambil menggerak-gerakkan jari sesuai dengan nomor ayat yang dilafazkan. Lakukan sampai lancar. Hal ini mengikat ayat 1 sampai 10.

5.Lakukan langkah diatas untuk ayat 11-20, ayat 21-30 dan ayat 31-40.
6.Terakhir gabungkan semua ayat (ayat 1 sampai 40) dalam surat tsb. Ulang-ulang sampai lancar

Kemudian bagaimana anda murajaah sebuah surat bila kita telah menghafal secara konvensional?
Bila surat tersebut ayat-ayatnya pendek maka kelompokkan menjadi 10 ayat-10 ayat. Hafalkan per 10 ayat.
Bila suratnya berayat yang panjang-panjang seperti Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa dll, maka pecah 10 ayat menjadi 5 ayat-ayat.

Manfaat dari menghafal dengan sistem potongan ini adalah:
Ketika murajaah kita tidak selalu harus memulai dari awal surat -ayat 1- sehingga untuk surat yang panjang murajaah dapat dilakukan sepotong-sepotong di dalam shalat kita.
Misalnya:
untuk setiap rakaat shalat kita membaca 10 ayat. Maka ketika shubuh kita sudah dapat murajaah sampai 40 ayat (sunnat shubuh 2 rakaat dan shubuh 2 rakaat).
Ini cukup bagus untuk surat An Naba yang 40 ayat. Atau untuk

1.Surat yang panjang seperti Al Baqarah, bila dilakukan 10 ayat untuk setiap rakaat shalat, maka selesai shalat isya kita sudah murajaah 100 ayat! Bila ditambah dengan shalat2 sunnah rawatib maka kita bisa murajaah 200 ayat dalam sehari. Dan bila ditambahkan dengan shalat dhuha dan tahajjud kita bisa mnyelesaikan 286 ayat Al Baqarah dalam shalat yang dilakukan sehari semalam!

2.Kita tidak merasa susah murajaah karena seakan-akan kita sedang menghafal surat-surat yang pendek saja. Secara psikologis kita merasa lebih ringan.

3.Menguatkan secara merata ayat-ayat di seluruh surat. Bukan hanya ayat-ayat awal surat saja. Dengan metoda menghafal konvensional maka kita harus selalu mengulangi mulai dari awal surat lagi. Kondisi-kondisi seperti ini akan menguatkan hafalan ayat-ayat awal dan menurunkan kualitas hafalan ayat-ayat akhir.

4. Hafal nomor ayat tanpa kita sadari. Ini adalah bonus yang sangat bermanfaat untuk kita.

5. Mengatasi kasus „ayat macet“. Bila macet di satu ayat biasanya akan berhenti memurajaah surat tersebut karena ayat-ayat yang selanjutnya sangat bergantung pada ayat yang macet/lupa. Tetapi dengan sistem 'potong surat’ ini kita masih tetap bisa terus memurajaah ayat-ayat setelah ayat macet ini.

Mengapa ?
Karena dalam menghafal sistem ini setiap ayat independen diletakkan dalam memori otak kita. Sebuah ayat tidak hanya dikaitkan dengan ayat yang sebelumnya –seperti dalam sistem menghafal konvensional- tapi juga dikaitkan dengan nomornya (yang diingat secara tidak sadar dengan menggerak-gerakkan jari tangan ketika menghafal).
Ketika memori yang terkait dengan ayat sebelum terlupakan maka ada
"pengait“ yang lain yaitu nomor surat.

Percaya atau tidak? Anda tinggal mencoba sistemini dan merasakan hasilnya!
Melakukan metoda ini tak sesulit membaca baris-baris di atas. Bila anda melakukannya ini adalah hal yang sangat simpel. Metoda ini menjadikan kita santai dan tidak stress dalam memurajaah. Karena kita mempunyai „petunjuk/milestones“ dalam surat-surat hafalan kita yaitu ayat 1, 11, 21, 31, 41 dst. Kita akan memurajaah „ayat-ayat pendek“, yaitu 10 ayat saja.

Cobalah anda praktekkan dan anda akan terkejut dengan hasilnya. Selamat bermurajaah!

Ummu Alya
Pentingnya Menghafal dan Memahami Al Quran
Al Quran diturunkan kepada Muhammad Rasulullah SAW selama 23 tahun masa kerasulan beliau. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW dengan perantaraan malaikat Jibril. Malaikat Jibril menurunkan Al Quran ke dalam hati Rasulullah dan beliaupun langsung memahaminya.

Hal ini disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqarah (2) : 97.:Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan Al Quran itu kepada para shahabatnya. Mereka menuliskannya di pelepah daun daun kering, batu, tulang dll. Pada saat itu belum ada kertas seperti zaman modern sekarang ini.Kemudian para shahabat langsung menghafalnya dan mengamalkannya.
Demkian Al Qur;an di ajarkan kepada para shahabat-shahabat yang lain. Al Quran difahami dengan menghafal.
Bukan dengan sekedar membaca.

Pada saat Rasulullah telah wafat, banyak terjadi peperangan. Dalam peperangan Yamamah misalnya , banyak para sahabat pemghafal Quran yang syahid. Melihat kondisi ini Umarpun meminta Abu bakar sebagai khalifah untuk membuat Mushaf Al Quran. Abu bakar sempat menolak. „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“ ujar beliau. Tapi dengan gigih Umar bin Khattab menjelaskan urgensinya pembuatan Mushaf bagi kepentingan kaum muslimin di masa yang datang.
Akhirnya Abu Bakarpun dapat diyakinkan dan kemudian setuju dengan ide Umar bin Khattab.

Abu Bakarpun lalu meminta Zaid bin Haritsah untuk melakukan tugas ini. Zaid bin Haritsah pun sempat berkata : „ Apakah engkau meminta aku untuk melakukan apa yang Rasulullah tidak lakukan ?“.
Tapi akhirnya Zaidpun setuju dan mulai mengumpulkan shahifah-sahhifah yang tersebar di tangan para shahabat yang lain. Batu, daun-daun kering, tulang dll itupun disimpan di rumah Hafsah.

Barulah pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, Mushaf Al Quran selesai sebanyak 5 buah. Satu disimpan Utsman dan 4 yang lain disebar ke : Makkah, Syria, Basrah dan Kufah.
Jadi pada saat itu para shahabat, tabi’it dan thabi’i tabiin mempelajari al Quran dengan menghafal karena jumlah Mushaf yang sangat sedikit.

Bagaimana dengan kondisi zaman sekarang?
Bila kita perhatikan di sekitar kita, diantara teman-teman dan keluarga kita, ada berapa persen diantara mereka yang hafal Al Quran ? Berapa persen yang sedang menghafal Al Quran?

Mungkin kita susah memberikan persentase karena dihitung dengan jari-jari tangan kita belum tentu genap semuanya.
Kaum muslimin saat ini masih cukup berpuas diri dengan membaca Mushaf Al Quran dan tidak memahami maknanya. Padahal membaca Al Quran baru langkah awal interaksi Al Quran. Al Quran sebagai petunjuk bagi kita tidak cukup dibaca tapi juga dihafal dan difahami.

Mungkin ada sebagian yang berkata mengapa perlu menghafal ?
Tidakkah cukup dengan membaca Mushaf dan membaca tarjemahan ?
Ternyata tidak cukup. Dengan menghafal Al Quran ada „rasa“ (atau zauk) yang diberikan Allah kepada hati kita. Rasa ini didapat karena ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang. Pengulangan kalam-kalam suci itulah yang menjadi „makanan“ untuk hati. Dan sesuai dengan ayat di Al Baqarah : 97 diatas, Al Quran itu diturunkan di hati Nabi Muhammad. Bukan di akal fikiran beliau. Artinya Al Quran itu konsumsi/makanan hati bukan sekedar fikiran.

Rasa inilah yang menjadikan kita nikmat mengenal Allah, memahami kehendakNya dan ringan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. „ Rasa „ ini kurang ada juga sedikit ketika kita hanya membaca. Apalagi bila membacanya tidak diiringi dengan pemahaman artinya. Dan membaca tidak diulang-ulang. Efeknya sangat berbeda dengan mengulang-ulangnya.

Kaum muslimin saat ini cukup berpuas diri dengan membaca „buta“ Al Quran dan menimba ilmu dari para ustadz, kiai dan pemuka-pemuka agama. Tanpa menghilangkan rasa hormat kepada para penyampai-penyampai risalah agama, kita sebagai hamba Allah, secara individual juga mempunyai kewajiban berusaha memahami Al Quran dari aslinya langsung dari firman-firmanNya.
Bila kita menghafal dan mentadaburi Al Quran maka Allah akan mengajarkan kepada kita pengetahuan melalui hati kita dengan perantaraan ilham. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Asy Syams ayat 8-10:“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“
Ilham ini dapat dirasakan dengan dalam hati kita. Bukankah kita pernah bingung tentang suatu masalah, kemudian pada suatu saat kita, „cling“ mememukan cara untuk menyelesaikan masalah dengan baik. Itulah ilham. Atau ilham itu sebagai furqan atau pembeda mana-mana amal yang haq dan mana-mana yang bathil.

Sebagai misal ketika kita masuk ke tempat maksiat maka hati kita akan terasa tidak enak, tidak nyaman. Itulah peringatan dari hati kita yang bersih. Furqan inilah yang dibutuhkan di dalam kehidupan ketika berperang dengan bisikan-bisikan syaithan yang membujuk-bujuk kita untuk berbuat maksiat dengan iming-iming duniawi yang menggiurkan.
Karena itu sangatlah kita memerlukan furqan yang menjadikan kita mantap mengetahui yang haq dan yang bathil.

Seperti disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Anfaal ayat 29:Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Al Quran juga sebuah petunjuk/pedoman hidup bagi kita kaum muslimin :Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.(QS Al Baqarah : 2)

Jadi intinya Al Qu’an adalah pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang hafal dan faham Al Quran.
Bagaimana Al Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim secara individual bila membaca dan memahaminya secara tuntas saja belum dilakukan ?
Dan banyak diantara kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum pernah membaca dengan tuntas Al Quran.

Bayangkan apabila kita akan pergi ke puncak Gunung Semeru. Sebelum pergi kita dibekali dengan peta, rambu-rambu dan petunjuk-petunjuk oleh seorang pendaki gunung profesional. Tetapi kita tidak memahami petunjuk-petunjuk tersebut. Apakah kita dijamin akan sampai di puncak gunung semeru dengan selamat ?

Kita mungkin lebih senang bertanya dengan penduduk setempat. Bila kita bertemu dengan penduduk yang sangat kenal gunung semeru mungkin kita akan sampai dengan selamat. Tetapi bila orang kita tanya juga kurang faham jalan ke puncak gunung, akankah kita sampai ke puncak dengan selamat atau mungkin kita bisa tersesat ?
Padahal bila kita memahami, petunjuk, peta dan juga bertanya maka kita akan mendapat jalan pintas untuk sampai ke puncak gunung.

Memang solusi pemahaman Al Quran ini tidak akan dapat berhasil bila sistem pendidikan agama tidak berjalan intensif sejak dini. Sebagai permisalan, bahasa Inggris diajarkan sejak SD. Maka kita lihat ketika lulus SMA para mahasiswa sudah bisa belajat dari diktat berbahas Inggris.
Bila sistem ini diterpakan juga untuk bahasa Arab (sebagai media inti pemahaman Al Quran) maka ketika berumur 20-25 seorang muslim sudah mulai bisa memahami Al Quran dengan mandiri.

Wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, memahami Al Quran bukan fardhu kifayah yang dibebankan kepada ulama, kiai atau ustadz. Tapi seperti dicontohkan oleh para sahabat, membaca, menghafal, memahami dan melaksanakan Al Quran dilakukan sebagai kewajiban indivial setiap kaum muslimin.

Bila secara individu seorang muslim meningkat kualitasnya, keluarga yang dibinanya juga akan berkulaitas sehingga akhirnya sebuah masyarakat madani yang dirindukan selama ini juga dapat terwujud.

Demikianlah renungan kita tentang Al Quran. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang mencintai Al Quran, membacanya, menghafalkannya, memahaminya dan mengamalkannya. Wallahu alam bi shawab

Ummu Alya



Manfaat Membaca Al Qur'an Tanpa Mengetahui Apa Artinya *
Ada Sebuah kisah seorang kakek tua yang hidup bersama cucu satu-satunya. Sang kakek adalah seorang muslim yang taat, tiada hari dalam hidupnya tanpa membaca Al-Qur’an. Si Cucu yang melihat betapa sang kakek begitu khidmat membaca Al-Quran penuh dengan penghayatan, bertkata : “Kek…!! Mendengar kakek membaca Al-Quran, aku merasa hatiku sejuk sekali ". Aku ingin sekali bisa memahaminya sebagaimana kakek, tapi aku tidak mampu, adapun yang aku pahami, aku lupakan secepat aku menutup buku "Adakah manfaat-nya kita membaca AL-QURAN tanpa mengetahui ARTINYA?".

Sang kakek seakan tidak menghiraukan pertanyaan cucunya yang masih muda itu. Dia malah mengajak cucunya itu keluar rumah. Sang kakek mengambil sebuah ember kotor (bekas mengangkut tanah liat), lalu dilubangilah ember itu di bagian bawah dan samping-sampingnya, beberapa lubang.

Si Cucu dengan keheranan dan rasa penasaran ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh kakek kesayangannya itu.

“Cucuku…! Bawalah ember ini ke sungai, kemudian isi air sampai penuh dan bawa kemari dalam keadaan terisi penuh air.” Si Cucu tentunya sadar, bahwa ember tersebut sudah bocor, maka mau tidak mau dia harus berlari setelah mengisi ember tersebut dengan air. Si Cucu pun menyanggupinya. Dan pergilah dia kesungai untuk mengisi ember tersebut dengan air, kemudian dia berusaha berlari sekencang-kencangnya agar setibanya di tempat kakeknya airnya masih penuh. Diapun melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Tapi setibanya di tempat kakeknya, ternyata tidak sedikit pun air yang tersisa. Semua airnya habis tertumpah sebelum tiba di tempat kakeknya. Sang kakek sesekali menertawakannya dan berkata, “Kali ini kau harus berusaha berlari lebih cepat lagi. AYO KAMU PASTIB ISA….!”.

Si Cucu pun berusaha lebih semangat lagi. Sampai akhirnya…!!! Dengan terengah-engah dia berkata kepada kakeknya, “Kek…! Aku rasa ini mustahil secepat apapun aku berlari, air tersebut akan lebih dulu habis sebelum aku sampai disini. Jadi ini suatu hal yang percuma”. Dengan tersenyum sang kakek berkata, “Cucuku kamu pikir semua ini percuma? Sekarang coba lihat ini…” Kakek menunjuk ke ember yang dipegang cucunya tersebut dan berkata, “Bukankah ember yang kau pegang tersebut sebelumnya kotor sekali?”

“Lihatlah sekarang, sudah menjadi ember yang bersih…! Luar dan dalam”
“Cucuku hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al-Quran. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah, luar dan dalam… Itu adalah karunia dari Allah swt di dalam hidup kita".

Nasib Pembenci Al Qur’an*
Bismillahirrahmanirrahim
Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Alquran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka (QS Muhammad 47: 8-9).

Alquran diturunkan sebagai petunjuk dari Allah SWT bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Barangsiapa yang mengimani dan mengamalkannya secara kaffah, kebahagiaan di dunia dan akhirat akan didapat. Sebaliknya, siapa pun yang mengingkari, apalagi membencinya, akan mengalami nasib menyedihkan.
Ayat ini adalah di antara yang memberitakan nasib yang dialami kaum kafir yang membenci Alquran.

Celaka dan Disesatkan Amalnya
Allah SWT berfirman: Wa al-ladzîna kafarû fata’s[an] lahum (dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka).
Dalam ayat sebelumnya diberitakan mengenai balasan dan anugerah bagi orang-orang yang mau menolong agama-Nya. Allah SWT akan menolong dan meneguhkan kedudukan orang-orang yang menolong agama-Nya. Yakni orang-orang yang bersedia tunduk, terikat, dan mengamalkan perintah dan larangan-Nya.
Kemudian dalam ayat ini diberitakan mengenai nasib orang-orang yang bersikap sebaliknya:al-ladzîna kafarû. Yakni orang-orang yang mengingkari sebagian atau seluruh perkara keimanan. Balasan yang bakal mereka terima adalah: fata’s[an] lahum.

Menurut al-Syaukanidan al-Qinuji, makna asal kata al-ta’s adalah al-inhithâth wa al-‘itsâr (kemerosotan dan kebinasaan). Dalam konteks ayat ini, ada beberapa penafsiran yang dikemukakan oleh ulama.
Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Juraij menafsirkannya bu’d[an] lahum(menjadi laknat terhadap mereka).
Menurut al-Sudi, khuzn[an] lahum (kesedihan bagi mereka).
Ibnu Zaid berkata, syaqâ`[an] lahum (kesengsaraan dan kemalangan bagi mereka).
Al-Hasan memaknainya sebagai syatm[an] lahum minal-Lâh (cacian dari Allah kepada mereka).
Tsa’lab mengartikannya halâk[an] lahum (kehancuran, kebinasaan bagi mereka).
Al-Dhahhak berkata, khaybat[an] lahum (kegagalan bagi mereka).
Demikian pemaparan al-Qurthubi dalam tafsirnya. 

Ibnu Jarir al-Thabari menggabungkan beberapa panafsiran tersebut, yakni hizy[an] lahum wa syaqâ` wa balâ` (kehinaan, kesengsaraan, dan bencana bagi mereka).

Kata al-ta’s juga digunakan dalam sabda Rasulullah SAW: Ta’isu ‘abd al-dînâr wa al-dirhâm wa al-qathîfah wa al-khamîshah, in u’thiya radhiya wa in lam yu’thâ lam yardha (kecelakaan bagi hamba dinar, dirham, sutra, dan gamis. Apabila diberi, dia ridha. Dan apabila tidak diberi, dia tidak ridha, (HR al-Bukhari dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dijelaskan Fakhruddin al-Razi dalam Mafâtîh al-Ghayb, ayat ini merupakan tambahan untuk menguatkan hati kaum Mukmin. Ketika dalam ayat sebelumnya disebutkan: wa yutsabbit aqdâmahum (dan Dia meneguhkan kedudukanmu), maka ada kemungkinan muncul anggapan bahwa orang kafir bisa jatuh dan teguh untuk berperang. Sehingga dalam peperangan, terjadi saling bunuh, saling serang, saling tikam, dan saling pukul. Maka muncullah kesulitan besar.

Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa kalian (orang-orang Mukmin) memiliki keteguhan. Sebaliknya mereka (orang-orang kafir) itu musnah, berubah, dan binasa, sehingga tidak ada keteguhan mereka.

Penyebabnya jelas, tuhan-tuhan mereka adalah benda mati yang tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan berhadapan dengan Dzat yang memiliki kekuatan. Maka tuhan-tuhan mereka itu tidak berguna untuk mencegah dan membatalkan keputusan Allah SWT atas mereka, yakni kehancuran.

Di samping itu juga: Wa adhalla a’mâlahum (dan Allah menyesatkan amal-amal mereka).
Kata al-dhalâl berartial-‘udûl ‘an al-tharîq al-mustaqîm (menyimpang dari jalan yang lurus).
Kebalikannya adalah al-hidâyah (petunjuk).
Demikian al-Raghib al-Asfagani.

Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, frasa ini berarti Allah menjadikan amal mereka dilakukan tapa petunjuk dan istiqamah. Sebab, amal mereka dilakukan karena ketaatan terhadap syetan. Bukan ketaatan kepada al-rahman. Al-Syaukani dan al-Jaiziri menafsirkan frasa ini sebagai abthlahâ waja’alahâ dhâi’at[an] (menjadikannya sia-sia dan lenyap).

Dikemukakan Fakhruddin a-Razi, ayat ini memberikan isyarat yang menjelaskan tentang perbedaan nasib orang- orang kafir yang telah mati dengan orang-orang Mukmin yang terbunuh (dalam medan peperangan).

Mengenai orang-orang Mukmin tersebut, Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka (QS Muhammad 47: 4). Sedangkan terhadap orang-orang kafir yang mati, Allah SWT menghapus dan melenyapkan semua amalnya.

Karena Membenci Al-Quran
Setelah diberitakan mengenai hukuman bagi kaum kafir, dalam ayat berikutnya dijelaskan perkara yang menjadi penyebabnya. Allah SWT berfirman: Dzâlika bi annahum karihû mâanzalal-Lâh lahum (yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah [Alquran]).
Kata dzâlika merupakan isyârah yang merujuk kepada kalimat sebelumnya, yakni kecelakaan dan lenyapnya amal orang-orang kafir. Sedangkan frasa bi annahum memberikan makna sebab. Artinya, semua kejadian yang menimpa mereka itu disebabkan sikap mereka: karihû mâ anzalal-Lâh lahum.

Menurut Ahmad Mukhtar dalam Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, kata kariha al-syakhsh fi’l al-sû` berarti maqatahu, walam yuhibbuhu, abghadhahu (membenci dan tidak menyukainya). Sedangkan yang dimaksud dengan mâanzalal-Lâh lahum dalam ayat ini adalah Alquran, beserta semua isinya, baik dalam perkara aqidah maupun syariah.

Telah maklum bahwa Alquran diturunkan sebagai hud[an] (petunjuk), syifâ` (obat),danrahmah (kasih sayang). Juga mengeluarkan manusia min al-zhulumât ilâ al-nûr (dari kegelapan menuju cahaya). Di dalam Alquran pula penjelasan haq dan batil, halal dan haram, tata cara ibadah, dan sebagainaya. Pendek kata, Alquran merupakan petunjuk hidup yang benar bagi seluruh manusia.

Oleh karena itu, ketika Alquran diingkari, apalagi dibenci, pelakunyadipastikan tidak akan bisa mengerjakan ibadah dan amal shalih lainnya dengan benar. Sebab ketentuan ibadah dan amal shalih bukan berdasarkan akal, namun oleh syara’ yang bersumber dari Alquran.

Kebencian terhadap Alquran yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang tauhid, akan membuat pelakunya menegasikan tauhid dan lebih memilih syirik. Sementara syirik menkadi penyebab terhapusnya pahala. Allah SWT berfirman: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu(TQS al-Zumar [39]: 65).

Alquranjuga berisi berita tentang akhirat. Orang yang mengingkari dan membencinya, tentulah tidak akan beramal untuk akhirat. Semuanya dikerjakan untuk mengejar dan meraih kenikmatan dunia. Karena itu dicari, maka wajar saja jika mereka tidak berhak mendapatkan bagian di akhirat.

Allah SWT pun berfirman: Faahbatha a’mâlahum(lalu Allah menghapuskan [pahala-pahala] amal-amal mereka). Kata habitha al-‘amal berarti habatha, fasada, bathala, dzahaba, suda[n] (terhapus, rusak, batal, lenyap, sia-sia). Sehingga makna ahbatha-Lâh al-‘amal adalah Allah membatalkan dan melenyapkan pahalanya. Demikian penjelasan Ahmad Mukhtar. Makna itu pula yang terdaapt dalam ayat ini.

Menurut al-Qinuji, yang dimaksud dengan amal di sini adalah amal yang terlihat secara kasat mata sebagai amal kebaikan meskipun pada asalnya tetap batil. Sebab, amal orang kafir tidak diterima sebelum keislaman mereka. Tak jauh berbeda, al-Thabari juga menjelaskan bahwa Allah SWT telah membatalkan amal yang mereka kerjakan di dunia. Ditegaskan pula olehnya, ketentuan ini berlaku untuk semua orang kafir.

Mengenai terhapus dan sia-sianya amal perbuatan orang juga ditegaskan dalam banyak ayat, seperti QS al-A’raf [7]: 147). Juga dalam al-Baqarah [2]: 217, Ali Imran [3]: 21-22, al-Maidah [5]: 5 dan 53, al-An’am [6]: 88.

Demikianlah nasib yang menimpa kaum kafir. Mereka mendapatkan kehinaan, kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan selama-lamanya. Semua amal yang dikerjakan sia-sia, lenyap, dan tidak berguna sedikit pun bagi mereka. Semua itu disebabkan karena kekufuran mereka, terutama kebencian mereka terhadap Alquran beserta ajarannya, baik sebagian atau seluruhnya.

Ancaman ayat ini seharusnya membuat para pengidap Islam phobiasegera sadar. Juga mereka yang suka menyebarkan kebencian dan sikap antipati terhadap Islam, syariah, jihad dengan makna yang sebenarnya (yakni perang di jalan Allah), dan daulah khilafah seraya menuduh para pejuangnya sebagai penganut radikalisme dan fundamentalisme, bahkan pelaku terorisme yang harus dibasmi. Umat Islam haruswaspada dan tidak boleh terpedaya oleh propaganda busuk mereka yang dapat menggelincirkan kita dan mengekor sikap mereka yang benci terhadap Islam. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Oleh: Rakhmat S. Labib, M.E.I.

SHALAT BERJAMA'AH : Keutamaan dan Pahalanya

Oleh Rosilwti Febten


Besok di akhirat, ada 3 golongan manusia yang berbeda di dalam menjaga shalat jamaah waktu di dunia:*
1. Wujuuhuhum Ka al-Kawakib (Wajah seperti bintang)Kelompok ini adalah mereka yang apabila mendengar adzan (panggilan shalat), mereka tidakmelanjutkan aktivitasnya melainkan segera mengambil air wudlu‟ untuk melaksanakanshalat.
2. Wujuuhuhum Ka al-Qamar (Wajah seperti bulan)Golongan ini bisa dicapai kepada mereka yang selalu dalam keadaan suci, walaupun belumada panggilan shalat(adzan) .
3. Wujuuhuhum Ka al-Syams (Wajah seperti Matahari)Golongan eksekutif yang dapat merasakan kenikmatan ini, karena mereka selalu dalamkeadaan suci, dan sudah duduk I‟tikaf di dalam masjid walaupun adzan belum berkumandang.

Inilah beberapa tauladan yang dapat mengangkat martabat kita sebagai pribadi yang bertaqwa, yang mampu menjaga dan memelihara suatu hadiah (baca: pesan moral dalam Al-Quran) dari Tuhan-Nya, sehingga menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Sudah sejauh manakah kita dalam mengaplikasikan hadiah indah dari Allah ta‟ala???Sholli „Ala Muhammad Wa Aalihi
Label:Islam

Pesan Moral dalam al--Qur'an*
Assalamualaikum wr.wb.
Banyak sekali pesan pesan moral yang disampaikan Allah swt melalui al-Quran, namun hanya beberapa contoh saja yang perlu kita ketahui diantaranya :
1. Ketenangan Jiwa
diantara penyeimbang kestabilan emosi yang diberikan oleh al-Qur'an adalah adanya perintah beriman dengan takdir, tidak satupun yang terjadi di atas dunia ini kecuali semuanya sudah tertulis di lauh mahfuzh, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS al-Hadid: 22)
Kaum mukminin seharusnya menyadari pernyataan yang agung ini. Sebagai konsekuensinya, sudah seharusnya mereka tidak berbuat kebodohan seperti orang-orang yang menolak kenyataan dalam hidupnya. Dengan memahami bahwa hidup ini ada sebuah ikatan yang namanya "takdir", mereka tidak akan pernah kecewa atau merasa takut terhadap apa pun. Mereka menjadi yakin dan tenang seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. yang bersabda kepada sahabatnya, "Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita." (QS at-Taubah: 40) ketika sahabatnya itu merasa khawatir ditemukan oleh kaum Quraisy yang bermaksud membunuh mereka ketika bersembunyi di dalam gua
2. Berhati-hati
Orang mukmin bukanlah orang buta yang dilepas dijagad raya ini namun dia adalah orang yg bisa melihat yang terus diperintah untuk memikirkan dan menyadari bahwa alam ini dibuat dengan tujuan dan maksud tertentu.
Alam dunia dibuat untuk menguji kualitas seseorang, apakah nantinya dia layak untuk sorga atau tidak, diatas dunia manusia akan menghadapi berbagai cobaan baik dengan kesenangan ataupun melalui kesengsaraaan, setelah datang masanya dia akan meninggalkan alam ini menuju alam yang abadi dan tempat hidup selamanya, tempat pemutaran kisah-kisah perjalanan hidup yang dia lewati sewaktu didunia
Mengabaikan Allah dan tidak mengacuhkan kehidupan akhirat, sepanjang hidup mengejar keserakahan dunia, berarti hukuman abadi di dalam api neraka. Orang-orang yang berada di jalan ini digambarkan Al-Qur`an sebagai "orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat". Bagi mereka, Allah memutuskan, "Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong." (QS al-Baqarah: 86)
Modal utama dalam pelayaran hidup di dunia ini adalah dengan tetap berhati-hati dan terus mendekatkan diri dengan tuntunan-tuntunan yang diberikannya dalam al-Qur'an.
3.Berdoa
Berdo'a merupakan cara berdialog dengan Allah; dan dia juga merupakan salah ciri yang membedakan orang yang beriman dari orang musyrik. seorang muslim seberapapun dia maksimal melakukan sesuatu maka dia tidak pernah melupakan aktivitas yang namanya doa.
karena dia meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa alam ini tidak berjalan dengan sendirinya, dia tidak semata tunduk pada hukum sebab akibat namun disana ada yang maha kuasa yang mengatur segalanya, kalaupun manusia bisa mentargetkan sesuatu namun dia tak kuasa sedikitpun untuk menentukan hasil dan Allah berfirman, 'Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.'" (QS al-Mu'min: 60)
4.Sabar hingga Datang Kematian
Manusia diciptakan dengan disertai sifat tidak sabar dan karenanya ia banyak berbuat kesalahan. Akan tetapi, agama meminta setiap orang agar bersabar karena Allah. Orang beriman, terutama, harus sabar menunggu keselamatan yang besar yang Allah janjikan, "Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (QS al-Muddatstsir: 7)
Sabar merupakan salah satu sifat penting untuk mencapai ridha Allah; itulah kebaikan yang harus diusahakan agar lebih dekat kepada Allah.
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (QS Ali Imran: 200)
Dalam masyarakat jahiliah, arti sabar bercampur dengan ketahanan diri. Akan tetapi, ketahanan diri memiliki makna yang berbeda, yaitu menahan sakit atau kesusahan. Makna sabar yang sebenarnya dijelaskan dalam Al-Qur`an. Perbedaan ini hanya dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Ketekunan orang-orang beriman bertujuan untuk mencapai ridha Allah. Dengan demikian, sabar memberikan penerangan bagi orang beriman, sedangkan "ketahanan diri" hanya memberikan kejengkelan dan kesusahan bagi orang-orang yang tidak beriman. Al-Qur`an menyatakan hal ini, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk." (QS al-Baqarah: 45)
Ayat lain dalam al-Qur'an menekankan bahwa kegembiraan akan diberikan kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi rintangan atau kesusahan.
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.'" (QS al-Baqarah: 155-156)
Sabar merupakan sifat mulia yang dapat meningkatkan kekuatan orang-orang beriman. Allah menyatakan pada ayat berikut, betapa kekuatan sabar ini bisa mengalahkan sesuatu.
"Sekarang, Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS al-Anfaal: 66)
Sabar, sekali lagi, merupakan sifat yang tergolong positif yang diterangkan dalam Al-Qur`an. Seseorang bisa saja rendah hati, sederhana, baik budi, taat atau patuh; namun semua kebaikan ini hanya akan berharga ketika kita menggabungkannya dengan kesabaran. Kesabaranlah yang diperlihatkan dalam berdo'a dan merupakan sifat orang beriman, yang membuat do'a-do'a kita dapat diterima.
Sabar meliputi seluruh kehidupan orang beriman, yang patuh pada ketentuan, "Sabarlah untuk tuhanmu." Akhirnya, Allah mengambil jiwa mereka dan memberi mereka penghargaan dengan surga-Nya. Malaikat yang berjaga di pintu-pintu menyebut orang yang benar dengan perkataan,
"(Sambil mengucapkan), 'Salamun `alaikum bi ma shabartum.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS ar-Ra'd: 24)
hamba Allah


10 ALASAN KNPA LAKI2 HRS SHALAT BERJAMA'AH*
Memang ada ikhtilaf ulama apakah Wajib Ain bagi laki-laki hukumnya shalat berjamaah di masjid atau hukumnya sunnah saja. Akan tetapi pendapat terkuat hukumnya wajib. Dengan beberapa alasan berikut:
1. Allah yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar shalat berjamaah.Allah Ta’ala berfirman,“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rh berkata,“makna firman Allah “ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.” hal. 139-141]Ash-Shalatu wa hukmu tarikiha

2. saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam al-QuranAllah Ta’ala berfirman,“Dan apabila kamu berada
di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan  satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” (An-Nisa’ 102)
Ibnu Mundzir rh berkata,“pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut(perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.” Al- Ausath 4/135]
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rh menjelaskan,“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau fardhu kifayah,  Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang).“ [Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim]

3.Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar adzan, maka bagaimana yang matanya sehat?Dari Abu Hurairah radia berkata,“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku kemasjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah saw untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” [HR. Muslim no. 653]

Dalam hadits yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi saw bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan
adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” [HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

4.wajib shalat berjamaah di masjid jika mendengar adzan Sabda Rasulullah saw,“Barangsiapa yang mendengar azan lalu tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya, kecuali bila ada uzur.”  [HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Misykat al-Mashabih: 1077 dan Irwa’ al-Ghalil no. 551]

5.Rasulullah saw memberikan ancaman kepada laki-laki yang tidak shalat berjamaah dimasjid dengan membakar rumah mereka.Rasulullah saw bersabda,“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651]
Ibnu Mundzir rh berkata,“keinginan beliau (membakar rumah) orang yang tidak ikut shalat berjamaah dimasjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid” [Al-Ausath 4/134]

6.tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.
Dari Abdullah bin Mas’ud ra dia berkata:“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” [HR. Muslim no. 654]

7.shalat berjamaah mendapat pahala lebih banyakDalam satu riwayat 27 kali lebih banyak Rasulullah saw bersabda,“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.” [HR. Bukhari] Diriwayat yang lain 25 kali lebih banyak:Rasulullah saw bersabda,“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.” [HR. Muslim]
Banyak kompromi hadits mengenai perbedaan jumlah bilangan ini. Salah satunya adalah “mafhum adad” yaitu penyebutan bilangan tidak membatasi.

8.keutamaan shalat berjamaah yang banyakRasulullah saw bersabda,“Barang siapa shalat isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat isya dan subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.” [Fathul Bari 2/154—157]

9. tidak shalat berjamaah akan dikuasai oleh setan Rasulullah saw bersabda,“Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” [HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi]

10.amal yang pertama kali dihisab adalah shalat, jika baik maka seluruh amal baik dan sebaliknya, apakah kita pilih shalat yang sekedarnya saja atau meraih pahala tinggi dengan shalat berjamaah?Nabi saw bersabda,
“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” [HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413 dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571]

Khusus bagi yang mengaku mazhab Syafi’i (mayoritas di Indonesia), maka Imam Syafi’i mewajibkan shalat berjamaah dan tidak memberi keringanan (rukshah).Imam Asy Syafi’i  rh berkata,“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” [Ash Shalah wa Hukmu Tarikiha hal. 107]

Berikut ini beberapa keutamaan shalat berjamaah di masjid.
1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang (tidak tergesa-gesa).
4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
6. Menunggu jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
8. Persaksian malaikat untuknya.
9. Memenuhi panggilan iqamat.
10. Terjaga dari gangguan setan karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
12. Mendapati takbiratul ihram.
13. Merapikan shaf dan menutup celah (bagi setan).
14. Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
16. Akan memperoleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
17. Memosisikan keadaan yang bagus.
18. Mendapatkan naungan malaikat.
19. Melatih untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.
20. Menampakkan syiar Islam.
21. Membuat marah (merendahkan) setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orangorang yang malas.
22. Terjaga dari sifat munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antartetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat. [Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul
Bari, 2/154—157, dinukil dari situs.]

Masih banyak dalil-dalil lainnya mengenai wajib dan keutamaan shalat berjamaah di masjid.

Alhamdulillahilladzi
bi ni’matihi tatimmush shalihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina
Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

Makalah Kajian di Mustek
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Saudaraku, Kau Kemanakan Shalatmu…?*

Allahu akbar…Allahu Akbar!!!
“Nak, ayo ke masjid gih…! Tuh udah adzan…!!!” celetuk santun seorang ibu kepada putra semata wayangnya. “Ah Ibu, ntar ajah! Nanggung nih… “ jawab sang anak sambil meneruskan melihat acara TV remaja.
Teman – temanku yang baik… banyak dari kita yang meremehkan dan menganggap enteng shalat berjamaah. Bahkan mungkin bias jadi kita adalah salah satu diantaranya. Oleh karenanya, melalui tulisan ini akan coba penulis sarikan mengenai shalat berjama’ah yang merupakan ibadah terindah di setiap hari kita ini…
Teman – teman yang baik… Allah Ta’ala banyak menyebut kata “sha-lat” dalam Al Qur’anul Karim. Ini menandakan begitu pentingnya perkara ini.

Ar Rahman berfirman : “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.”(Al Baqarah : 43)

Teman – teman, coba dengarkan kata seorang ahli ilmu dari Saudi Arabia, al Faqih ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Bazz –rahimahullah- tentang ayat di atas,” Ayat yang mulia ini adalah nash yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah dan ikut serta bersama orang-orang yang melaksanakannya. Jika yang dimaksud itu hanya sekedar melaksanakannya (tanpa perintah berjamaah), tentu tidak akan disebutkan di akhir ayat ini kalimat (dan rukulah bersama orang-orang yang ruku’), karena perintah untuk melaksanakannya telah disebutkan di awal ayat.”

Kemudian dalam surat An- Nisa’ Allah berfirman “Dan apabila kamu berada ditengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sha-lat) besertamu dan menyandang senjata, kemu-dian apabila mereka (yang shalat besertamu) su-jud (telah menyempurnakan serekat), maka hen-daklah mereka dari belakangmu (untuk meng-hadapi musuh) dan hendaklah datang golongan kedua yang belum shalat, lalu bershalatlah me-reka denganmu , dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata…” (An Nisa’ 102)

Nah loh…! Dalam keadaan perang aja Allah Ta’ala mewajibkan shalat berjama’ah…Lantas gimana bila dalam keadaan damai…?!
Kemudian disebutkan di atas bahwa “..dan hendaklah datang segolongan kedua yang be-lum shalat, lalu bershalatlah bersamamu…”.

Teman – temanku yang baik, coba perhatikan ayat tersebut…Tuh ayat adalah dalil bahwa shalat berjamaah adalah far-dhu ‘ain lho! Bukan fardu kifayah seperti kata sebagian tetangga – tetangga kita pas SD dulu… Apalagi ada yang mengatakan sunnah!!! Minta dijitak dia…
Jika emang hukumnya fardhu kifayah, pastilah gugur kewajiban berjamaah bagi kelompok kedua ka-rena penunaian kelompok pertama. Dan jika hu-kumnya adalah sunnah, pastilah alasan yang paling utama adalah karena takut. Jelas ga’ tuh NGAWURISASI tetangga kita tadi…???

Coba kalian lihat dalam buku Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai pe-nuntun yang akan menuntunku ke Masjid. ” Ma-ka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan.
Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata: “Apakah kamu mendengar adzan ? Ya, jawabnya. Nabi berkata :”Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!”
Masya Allah… Pelototin tuh hadits!!! Idola kita Rasulullah saw tidak memberikan keringanan kepada Abdullah bin Ummi Maktum ra untuk shalat dirumahnya (tidak berjamaah) padahal keadaan beliau seperti ini:1. Keadaan beliau buta.:2. Tidak adanya penuntun ke Masjid.:3. Jauh rumahnya dari Masjid.
4. Adanya pohon-pohon kurma dan lain-lain yang ada diantara rumah beliau dan Masjid.:5. Adanya binatang buas di Madinah.:6. Tua umurnya dan telah lemah tulang-tulang-nya.

Kalo kita…??? Mata masih melek…Jalan sendiri ke masjid masi’ bias…masjid ada di depan pagar rumah…binatang buas paling cumin kucing, umurnya masi’ muda bahkan HONDA REVO dan MEGAPRO nangkring di teras…eh malah tidak berangkat ke masjid!!! Kalo emang teman2 adalah remaja dan pemuda tipe kaya’ gini…??? Ke Laut aja deh…!!!
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meri-wayatkan bahwa Nabi saw telah bersabda : “Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan shalat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berangkat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al Bukhari-Muslim)
Coba perhatiin teman…! Hadits di atas telah menjelaskan bahwa Rasulullah saw akan membakar rumah-rumah yang penghuni laki – lakinya tidak keluar untuk shalat berjamaah di masjid. Dan masih banyak lagi hadits yang menerangkan peringatan keras Rasulullah terhadap orang-orang yang tidak hadir ke masjid untuk berjamaah bukan semata-mata karena mereka meninggalkan shalat, bahkan mereka shalat di rumah-rumah mereka. Coba bandingkan dengan zaman kita sobat…??? Mungkin rumah kita termasuk rumah yang akan dibakar oleh Nabi yang mulia saw.

Kemudian coba dengarin nih, Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata : “Hadits ini telah menerangkan bahwa shalat berjamaah adalah fardhu ‘ain, karena kalau shalat berjamaah itu hanya sunnah saja, Rasulullah tidak akan berbuat keras terhadap orang-orang yang meninggalkannya, dan kalau fardhu kifayah pastilah telah cukup dengan pekerjaan beliau dan yang bersama beliau.”

Hukum Shalat Berjama’ah Wajib Ataukah Sunnah?

Tidak disangsikan lagi permasalahan ibadah merupakan intiajaran Islam. Syari’at sangat memperhatikan permasalahan ini, karena iamerupakan perwujudan aqidah seseorang. Bahkan Allah Ta’ala menjadikannyasebagai tujuan penciptaan manusia, dalam firman-Nya:“DanAku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadahkepada-Ku.“ [QS.Adz Dzariyaat :56]
Diantara ibadah yang agung dan penting adalah shalat,karena ia merupakan amalan terbaik seorang hamba, sebagaimana Rasulullah saw bersabda:“Beristiqamahlah dan kalian tidak akan mampuistiqamah yang sempurna. Ketahuilah sebaik-baiknya amalan kalian adalah shalatdan tidaklah menjaga wudhu kecuali seorang mukmin.“

Apalagi shalat telah diwajibkan Allah terhadap kaummukminin, sehingga sudah selayaknya kita memperhatikan permasalahan ini.Tentunya berharap dapat menunaikannya secara sempurna.


Apa kata para panutan pemuda muslim tentang shalat berjamaah…???
Teman – temanku yang baik…Abdullah bin Mas’ud ra berkata : “Engkau telah melihat kami, tidak sese-orang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). “Beliau menegaskan : “Rasulullah saw mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang diker-jakan di masjid).” (HR. Muslim dlm buku Shahih Muslim)

Beliau juga mengatakan : “Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hen-daklah memelihara semua shalat yang dise-rukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat ter-masuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian sha-lat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Se-tiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah SWT menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Eng-kau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), ke-cuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. Pernah ada seorang lelaki hadir dengan dituntun antara dua orang untuk didirikan shaf.”

Coba perhatikan yang ini…Ibnu Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Abu Musa Al-Asy’ari ra mereka berkata : “Barangsiapa yang mendengar adzan kemudian dia tidak mendatanginya tanpa udzur, maka tidak ada shalat baginya.”

Ali bin Abi Thalib berkata : “Tidak ada tetangga masjid kecuali shalat di masjid.” Ketika ditanyakan kepada beliau : “Siapa tetangga masjid ?” Beliau menjawab : “Siapa saja yang mendengar panggilan adzan.” Kemudian kata beliau : “Barangsiapa mendengar panggilan adzan dan dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya, kecuali dia mempunyai udzur.

Teman – teman yang baik…meningggalkan shalat berjamaah merupakan salah satu penyebab untuk meninggalkan shalat sama sekali atau tidak mengerjakan shalat blas (sama sekali). Dan perlu diketahui bahwa meninggalkan shalat adalah kekufuran, dan ke-luar dari islam. Ini berdasar pada sabda Nabi : “Batas antara seseorang dengan kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim). “Janji yang membatasi antara kita dan orang-orang kafir adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia kafir.” Ngeri tidak…???

Nah temanku…kita wajib memelihara shalat pada waktunya, mengerjakan shalat sesuai de-ngan yang disyariatkan Allah, dan mengerjakan secara berjamaah di rumah-rumah Allah. Setiap muslim wajib taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta takut akan murka dan siksanya.
Tidak bisa dipungkiri shalat berjamaah mempunyai beberapa hikmah serta kemaslahatan. Hikmah yang tampak adalah:
1. Akan timbul diantara sesama muslim akan sa-ling mengenal dan saling membantu dalam kebaikan, ketaqwaan, dan saling berwasiat de-ngan kebenaran dan kesabaran.
2. Saling memberi dorongan kepada orang lain yang meninggalkannya, dan memberi penga-jaran kepada yang tidak tahu.
3. Hati akan membenci kemunafikan.
4. Memperlihatkan syiar-syiar Allah ditengah-tengah hamba-Nya.
5. Sarana dakwah lewat kata-kata dan perbuatan.

Oleh karena itu jika kita masih merasa muslim, maka wajib bagi kita memperhatikan, dan bersegera melak-sanakannya. Juga wajib memberitahukan hal ini kepada anak-anaknya, keluarga, tetangga, dan se-luruh teman-teman seaqidah agar mereka melak-sanakan perintah Allah Ta’ala dan rasul-Nya dan agar mereka takut terhadap larangan Allah dan rasul-Nya dan agar mereka menjauhkan diri dari sifat-sifat orang munafik yang tercela, dianta-ranya malas mengerjakan shalat.
Teman – teman, ayo shalat berjamaa’ah yuk…!

Denpasar, 20 Juli ’08 oleh Didit Fitriawan

Shalat Berjamaah atau Shalat di Awal Waktu?
Kalau kita mau main banding bandingan, mana yang lebih utama antara shalat berjamaah tapi waktunya tidak benar benar di awal, dengan shalat benar benar di awal waktu tapi sendirian, maka yang lebih utama adalah shalatberjamaah meski tidak terlalu di awal waktu.
Tentu kita masih ingat hadits yang menyebutkan betapa utamanya shalat berjamaah. Ya, perbandingannya 25 derajat atau 27 derajat. Sedangkan hadits hadits tentang shalat di awal waktu, tidak sampai menyebutkan perbandingannya sedetail itu.
Sebagai dalil tambahan yang menguatkan lebih utama shalat berjamaah adalah sebagian ulama sampai kepada kesimpulan wajibnya shalat berjamaah. Dalam pandangan ulama tersebut, shalat wajib 5 waktutidak sah dikerjakan kecuali dengan cara berjamaah. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah muakkadah, bahkan ada yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah.
Sementara tidak ada ulama yang sampai mewajibkan shalat di awal waktu. Dan juga, tidak ada ulama yang mengatakan tidak sah kalau bukan dikerjakan diawal waktu.
Namun kalau masih bisa shalat berjamaah di awal waktu, maka tentu mendapat dua keutamaan sekaligus. Namun kalau terpaksa harus memilih salah satunya, maka tidak mengapa waktunya mundur sedikit, tapi tetap bisa berjamaah.

Mana Yang Lebih Utama, Shalat Berjamaah di Masjid atau di Rumah?
Shalat berjamaah di masjid buat seorang laki laki lebih utama dari pada shalat berjamaah dirumahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah saw berikut ini:
Dari Abdullah binUmar rh bahwa Rasulullah saw bersabda,“Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR Muttafaq ‘alaihi)
Dan riwayat keduanamun lewat jalur Abi Hurairah rh disebutkan, “dengan 25 bagian.”Dan dari riwayat Abi Said menurut Bukhari dengan lafadz; “derajat.”
Beberapa ulamamenafsirkan hadits Rasulullah saw tentang fadhilahshalat berjamaah lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian atau 25 bagian,dengan memberikan beberapa ketentuan, yaitu shalat berjamaah itu dilakukan dimasjid di awal waktu.
Adapun shalat berjamaah di rumah, atau di masjid tapi di luar shalat berjamaah yang utama,atau shalat sendirian tapi di masjid, semuanya di luar maksud hadits di atas.

Zaid bin Tsabit r.a. berkata: Bersabda Nabi saw, “Hai sekalian manusia, shalatlah di rumah, maka sesungguhnya seutama-utama shalatseseorang itu adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.”(Bukhari – Muslim)
Dari ‘Aisyah r.a. berkata: Ketika Nabi saw masuk ke rumahkami bertepatan dengan adanya seorang wanita maka Nabi saw bertanya, “Siapakahwanita itu?” Jawab ‘Aisyah, “Ini Falunah yang terkenal ibadah shalatnya banyaksekali.” Maka Nabi saw bersabda, “Ah (kata yang menyatakan kurang senang),hendaklah ia mengerjakan menurut kadar kemampuannya dengan tidak memaksakandiri maka Allah tidak akan jemu (bosan) menerima amalmu sehingga kamu sendiriyang jemu beramal dan perilaku agama yang disukai Allah ialah yang dikerjakanterus-menerus.”(Bukhari – Muslim)

PAHALA SHALAT BERJAMAAH
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibandingkan shalat sendirian." (HR Bukhari dan Muslim). Dengan alasan ini, seperti diceritakan Jabir ra, saking inginnya mendapatkan keutamaan pahala shalat berjamaah di masjid, banyak sahabat dari Bani Salamah terdorong pindah rumah mendekati masjid Nabi.

Mendengar kabar tersebut , Rasulullah  bertanya kepada mereka, "Benarkah kalian ingin pindah rumah mendekati masjid?" Mereka menjawab, "Benar, ya Rasulullah." Nabi bersabda, "Wahai Bani Salamah, tetaplah di tempat kalian, karena setiap langkah kaki kalian ke masjid dicatat satu pahala."

Selain itu, orang yang shalat berjamaah di masjid masih mendapat bonus pahala, yaitu setiap langkah kakinya ke masjid dapat menghapus satu kesalahan. Bahkan, selama menunggu datangnya shalat, dia tetap memperoleh pahala shalat. Setelah itu, selesai shalat, selama ia berada di masjid dan belum batal wudhu, para malaikat berdoa untuknya, "Ya Allah, berkahilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia." (Muttafaqun 'alaih).

Rangkaian shalat dimulai dari berwudhu, yang merupakan sarat sahnya shalat. Dalam hadis yang diriwayatkan Malik, Nasa', Ibnu Majah, dan Hakim, Rasul memberikan penjelasan mengenai wudhu ini. Beliau mengatakan, jika seseorang berwudhu lalu berkumur, maka dosa-dosa keluar dari mulutnya.

Jika orang itu membersihkan hidung, maka dosa-dosa keluar dari hidungnya. Jika dia membasuh muka, maka dosa-dosa keluar dari mukanya hingga dari bawah kelopak matanya. Jika dia membasuh kedua tangan, maka dosa-dosa keluar dari kedua tangannya hingga dari bawah kukunya.

Dan, Jika dia mengusap kepala, maka dosa-dosa keluar dari kepalanya hingga dari kedua telinganya. Jika dia membasuh kedua kaki, maka dosa-dosa keluar dari kedua kakinya hingga dari bawah kuku kakinya. Setelah itu, langkahnya ke masjid dan shalatnya menjadi tambahan pahala baginya.

Ketika datang waktu shalat, azan dikumandangkan di masjid atau mushala maka orang-orang yang mendengar seruan azan disunahkan mengucapkan sebagaimana yang diucapkan muazin. Jika ini dilakukan, orang-orang yang menjawab seruan azan tersebut akan masuk surga.

Selesai azan, kita disunahkan bershalawat dan berdoa untuk Rasulullah. Dengan melakukan ini, niscaya niscaya Allah memberi keberkahan 10 kali lipat dan kita akan mendapat syafaat dari Rasulullah di hari kiamat. Selain itu, sebelum dan atau sesudah shalat fardhu, kita dainjurkan melaksanakn shalat sunah rawatib.

Shalat tersebut berfungsi untuk menyempurnakan shalat fardhu yang kita tunaikan.

Setiap shalat sunah memiliki keutamaan, misalnya, "Dua rakaat shalat sunah sebelum Subuh lebih baik dibandingkan dunia dan seisinya." (HR Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa`i). Subhanallah, setiap shalat fardhu yang dilaksanakan secara berjamaah di masjid ternyata membawa gerbong pahala sangat besar.


Oleh Syamsu Hilal

Fadhilah Shalat Berjamaah*
Assalamualaikum wr. wr.
Qobats bin Assyam Allaith r.a. meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasululloh Saw. bersabda : Sholatnya 2 orang secara berjamaah lebih disukai Alloh Swt. daripada sholat 4 orang secara sendiri-sendiri. Sholatnya 4 orang secara berjamaah lebih disukai oleh Alloh Swt. daripada sholatnya delapan orang secara sendiri-sendiri. Sholatnya 8 orang secara berjamaah lebih disukai oleh Alloh Swt. daripada sholatnya 100 orang secara sendiri-sendiri.

Dalam hadits lain dikatakan jamaah yang lebih besar lebih disukai Alloh Swt. daripada jamaah yang kecil. Sebagian orang berpendapat bahwa tidak ada salahnya sholat berjamaah di rumah atau di tempat kerjanya (kantor, toko, dsb.). Ini adalah pendapat yang keliru.
1. mereka tidak dapat memperoleh KEUNTUNGAN sholat berjamaah di masjid,
2. mereka kehilangan keberkahan karena tidak bergabung dalam jamaah yang besar, karena semakin besar/banyak orang yang berjamaah Alloh semakin memberikan keberkahan dalam jamaah yang besar tersebut.

Kalau tujuan kita sholat untuk mencapai keridoan Alloh Swt. Mengapa kita tidak melakukan amalan (sholat) yang lebih diridoi Alloh Swt. yaitu dengan sholat berjamaah. Banyak kerugian yang kita derita dengan sholat sendiri/tidak berjamaah. Belum tentu bacaan sholat kita, terutama bacaan Al Fatihah, benar atau sempurna, belum tentu khusyu, dan lain-lain. Dengan sholat berjamaah segala kekurangan-kekurangan kita dalam syarat dan rukun sholat ada kemaafan dari Alloh Swt.

Shalat berjamaah di masjid buat seorang laki-laki lebih utama dari pada shalat berjamaah di rumahnya. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini:
Dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat.” (HR Muttafaq ‘alaihi)

Dan riwayat kedua namun lewat jalur Abi Hurairah ra. disebutkan, “dengan 25 bagian.” Dan dari riwayat Abi Said menurut Bukhari dengan lafadz; “derajat.” Beberapa ulama menafsirkan hadits Rasulullah SAW tentang fadhilah shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dari shalat sendirian atau 25 bagian, dengan memberikan beberapa ketentuan, yaitu shalat berjamaah itu dilakukan di masjid di awal waktu.

Di antara rahasia fadhilah shalat berjamaah di masjid itu adalah:
1. Sebelum berjalan ke masjid, ketika seseorang berwudhu’ di rumahnya, bukan berwudhu’ di masjid, dia telah mendapatkan pahala atas wudhu’nya.
2. Ketika dia memakai pakaian dan wewangian dengan niat karena akan masuk masjid, maka dia akan mendapat pahala tersendiri. Karena Allah SWT telah memerintahkan agar seseorang berhias setiap masuk masjid.
3. Ketika seseorang berjalan ke masjid dengan melangkahkan kaki, maka tiap langkah kakinya itu mendapatkan kebaikan tersendiri yang mendatangkan pahala.
4. Ketika masuk masjid, seseorang akan mendapat pahala bila membaca doa masuk masjid.
5. Masih ketika masuk masjid, dia juga akan mendapatkan pahala ketika melangkah dengan kaki kanannya.
6. Begitu masuk masjid, seseorang akan mendapat kesempatan mendapatkan pahala dari shalat tahiyatul masjid.
7. Kemudian ketika seseorang duduk di masjid sambil menunggu datangnya waktu shalat, dia sudah terbilang melakukan i’tikaf bila dia meniatkannya. Menurut mazhab As-syafi’iyah, i’tikaf bisa dilakukan asalkan dengan niat dan berdiam di masjid, meski hanya sesaat saja.
8. Begitu adzan berkumandang, dia juga akan mendapatkan kesempatan mendapatkan pahala tersendiri dengan mendengarkan adzan dan menjawabnya. Apalagi bila dia sendiri yang melakukan adzan.
9. Setelah mendengar adzan, dia akan mendapatkan kesempatan mendapatkan kebaikan lagi ketika membaca doa setelah adzan.
10.Selesai doa adzan, dia akan mendapatkan lagi kesempatan mendapat pahala dengan shalat sunnah qabliyah.
11.Setelah iqamat didengungkan, lalu imam mengatur barisan, dia akan mendapatkan pahala lagi bila ikut memperhatikan imam dan mengatur barisannya agar lurus dan rapat.
12.Pada saat shalat jamaah dilaksanakan, dia akan mengikuti semua gerakan imam dengan baik. Kalau imam berdiri, maka dia berdiri, kalau imam rukuk, maka dia rukuk, kalau imam sujud maka dia ikut sujud. Semua tindakannya mengikuti imam itusudah mendatangkan pahala tersendiri.
13.Ketika imam sampai pada bacaan “waladhdhaallin”, maka dia menjawab, “amiin.” Jawaban itu mendatangkan pahala tersendiri.
14.Dia juga akan mendapatkan pahala tersendiri ketika mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, dibandingkan saat shalat sendirian di rumah, atau berjamaah di rumah. Karena salam itu doa untuk orang yang di kanan dan kirinya. Dan karena di masjid jumlah jamaahnya lebih banyak, maka doa yang akan diterimanya jauh lebih banyak.
15.Selesai shalat wajib, dia akan mendapatkan pahala lagi bila membaca beberapa lafadz dzikir atau doa.
16.Kemudian kesempatan berikutnya lagi adalah ketika dia melakukan shalat sunnah ba’diyah shalat.
17.Di dalam masjid, dia tentu akan bertemu dengan banyak jamaah shalat lainnya. Ketika bertemu dan memberi salam, dia akan mendapatkan pahala tersendiri.
18.Sambil memberi salam, apabila dia juga berjabat tangan, maka dia pun akan mendapatkan pahala tersendiri.
19.Senyumnya kepada sesama saudaranya adalah sedekah. Dan ini akan menambahlagi kesempatannya untuk mendapatkan pahala.
20.Ketika hendak berpisah dengan sesama jamaah di masjid, maka dia akan mendapat pahala bila mengucapkan salam atau membalas salam.
21.Dia juga akan mendapatkan pahala bila diikuti dengan berjabat tangan ketika akan berpisah dengan sesama muslim.
22.Ketika pulang dari masjid, dia membaca doa keluar masjid. Hal itu menambah lagi pahalanya.
23.Di masjid terbuka kesempatan untuk berinfaq, maka bila dia memanfaatkan kesempatan itu, dia akan mendapatkan pahala tersendiri dari berinfaq.
24.Di dalam masjid seringkali digelar khutbah atau majelis ilmu (kultum). Bila dia mendengarkan nasehat dan penyampaian ilmu dengan niat menjalankan perintah Allah SWT dan karena menuntut ilmu itu wajib hukumnya, maka dia akan mendapatkan kebaikan tersendiri.
25.Ketika keluar, dia melangkah dengan kaki kirinya. Satu lagi tambahan pahala akan didapatnya.
26.Ketika pulang, dia mengambil jalan lain yang tidak sama dengan jalan yang dilewati saat pergi ke masjid. Ini adalah sunnah Rasulullah SAW yang tentu mendatangkan pahala tersendiri.
27.Setiap langkah kaki saat pulang dari masjid, maka dia akan mendapatkan pahala lain tersendiri.

Butir-buitr kesempatan memetik pahala di atas dari berbagai dalil yang berserak-serak, kemudian dikumpulkan. Tentu saja jumlahnya tidak hanya 27 bagian saja, pasti akan ada lebih banyak lagi.Namun uraian di atas hanya sekedar memberikan contoh salah satu versi ijtihad pada ulama ketika menguraikan rahasia mengapa shalat berjamaah di masjid lebih utama dari shalat yang lainnya.

Tentu saja tidak semua orang yang shalat di masjid berjamaah akan mendapatkan semua kesempatan itu. Sebab tidak semuanya melakukan hal-hal di atas. Tapi intinya kami ingin memberikan pemaparan bahwa di balik keutaman shalat berjamaah di masjid itu, memang ada alasan-alasan logis yang bisa ditarik sebagai landasan. Paling tidak, hal-hal di atas akan memberikan alasan mengapa shalat berjamaah di masjid lebih utama untuk dikerjakan. Wallahu a’lam bishshawab,

Ahmad Sarwat, Lc.

Saat Hujan Wajibkah Shalat Berjama'ah di Masjid??

Para ulama bersepakat bahwa shalat berjamaah di masjid disyariatkan, hanya saja mereka berbeda pendapat tentang hukum rincinya. Imam Abu Hanifah, Malik, dan asy Syafi'i ra berpendapat hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat-sangat ditekankan), tidak wajib. Sedangkan Imam Ahmad ra dan lainnya, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al Jauziyah berpendapat hukum shalat berjamaah lima waktu di masjid adalah wajib bagi laki-laki yang mukallaf. Ini sesuai dengan pendapat beberapa sahabat Nabi saw di antaranya Ibnu Mas'ud dan Ibnu 'Abbas ra dan beberapa ulama Tabi'in.

Pendapat yang kedua, wallahu a'lam, adalah yang lebih benar berdasarkan kuatnya dalil-dalil yang dijadikan sandaran. Di antaranya hadits seorang laki-laki buta yang datang kepada Nabi saw meminta rukhshah (keringanan) untuk tidak menghadiri Jamaah karena tidak memiliki penuntun, tapi Nabi saw tidak mengizinkannya karena ia mendengar adzan dan juga hadits tentang keinginan Nabi saw untuk membakar rumah laki-laki yang tidak menghadiri shalat berjamaah, bila saja  tidak ada kaum wanita dan anak-anak di sana.
. . . hukum shalat berjamaah lima waktu di masjid adalah wajib bagi laki-laki yang mukallaf. . .

Namun di kala ada udzur atau alasan syar'i, seperti hujan, dibolehkan untuk tidak berjama'ah di masjid. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya:
(1) Dari Ibnu Abbas ra bahwasanya dia pernah berkata kepada mu'adzinnya ketika hujan turun: "Apabila engkau telah melafadzkan : Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah maka jangan mengatakan : Hayya 'alash shalaah, akan tetapi katakan : Shalluu Fii Buyuutikum (Shalatlah di rumah kalian).

Lalu manusia (mendengarkannya seolah-olah) mengingkari masalah tersebut. Ibnu Abbas lalu berkata: 'Hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw). Sesungguhnya shalat Jum'at itu adalah kewajiban dan aku tidak ingin menyuruh kalian keluar (ke Masjid) lalu kalian berjalan di atas tanah yang becek dan licin". (HR. al Bukhari dan Muslim)
An Nawawi ra menjelaskan, ”Dari hadits di atas terdapat dalil tentang keringanan untuk tidak melakukan shalat jama’ah ketika turun hujan dan ini termasuk udzur (halangan) untuk meninggalkan shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah -sebagaimana yang dipilih oleh ulama Syafi’iyyah- adalah shalat yang mu’akkad (betul-betul ditekankan) apabila tidak ada udzur. Dan tidak mengikuti shalat jama’ah dalam kondisi seperti ini adalah suatu hal yang disyari’atkan (diperbolehkan) bagi orang yang susah dan sulit melakukannya.
Hal ini berdasarkan riwayat lainnya, ”Siapa yang mau, silahkan mengerjakan shalat di rihal (kendaraannya) masing-masing.”(Syarh Shahih Muslim, 5/207)

(2) Dari Nafi, dia berkata : "Pernah suatu malam Ibnu Umar radliyallah 'anhuma mengumandangkan adzan di Dhojnan (nama sebuah gunung dekat Mekkah, -pent) lalu beliau berkata : Shalluu Fii Rihaalikum- kemudian beliau menceritakan bahwa Rasulullah saw  pernah menyuruh muadzinnya mengumandangkan adzan pada waktu malam yang dingin atau hujan dalam safar (perjalanan), dan pada akhir adzannya mu'adzin itu mengucapkan : Alaa Shallu Fi Rihaal." (HR.Bukhari dan Muslim)
(3) Dari Usamah bin Umair ra dia berkata : "Dahulu kami bersama Rasulullah saw pada waktu Hudaibiyah dan hujanpun menimpa kami tapi tidak sampai membasahi sandal-sandal kami. Lalu mu'adzin Rasulullah saw mengumandangkan: Shalluu Fii Rihaalikum". (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Hadits ini membantah pengkhususan (udzur) hanya pada hujan deras saja. Bahkan Ibnu Hibban membuat judul bab dalam Shahihnya (5/438) dengan ucapan beliau (penjelasan bahwa hukum hujan rintik-rintik yang tidak mengganggu itu sama dengan hukum hujan yang mengganggu)
(4) Dari Ibnu Umar ra bahwa dia pernah menemui malam yang dingin sekali maka ada di antara mereka yang memberitahu (tentang bolehnya shalat di rumah saat hujan, -pent), maka merekapun shalat di rumah-rumah mereka. Ibnu Umar mengatakan : "Sesungguhya aku melihat Rasulullah saw menyuruh para sahabat untuk shalat di rumah mereka di kala keadaannya seperti ini". (HR. Ibnu Hibban)

(5) Dari Jabir ra dia berkata : "Dahulu kami bersama Rasulullah saw dalam safar (perjalanan) lalu hujanpun menimpa kami maka Rasulullah saw berkata : "Siapa yang mau maka silahkan dia shalat di rumahnya atau tempatnya". (HR. Muslim)
Ibnu Hibban meriwayatkan pula hadits tersebut dalam shahihnya 2082 dan memberi judul babnya : "Penjelasan bahwa perintah untuk shalat di rumah (tidak berjama'ah,-pent) bagi yang memiliki udzur diatas adalah suatu yang mubah atau dibolehkan dan bukan wajib".

Di dalam hadits-hadits tersebut di atas ada beberapa pelajaran penting, diantaranya :
(a) Boleh meninggalkan shalat berjama'ah di masjid karena alasan (yang disyariatkan,-pent). Hal ini dikatakan oleh Al-Iraqi dalam (Tarhut Tatsrib 2/318). Lalu dia berkata : "Ibnu Baththa berkata : Para ulama telah sepakat bahwa meninggalkan shalat berjama'ah (di masjid) pada waktu hujan deras, angin (kencang) dan yang semisalnya dibolehkan".

Imam Qurthubi mengatakan dalam (Al-Mufhim 3/1218) setelah menyebutkan beberapa hadits-hadits diatas : "Dahir hadits-hadits tersebut menunjukkan bolehnya meninggalkan shalat berjama'ah karena hujan, angin (kencang) dan dingin serta semisalnya dari hal-hal yang memberatkan baik dikala perjalanan (safar) atau tidak".

Sayid Sabiq ra, dalam Fiqh Sunnah menyebutkan salah satu sebab yang membolehkan tidak ikut shalat berjama’ah adalah cuaca yang dingin dan hujan. Lalu beliau membawakan perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan bahwa hal ini adalah ijma’ (kesepakatan para ulama). (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 1/234-235).
. . . salah satu sebab yang membolehkan tidak ikut shalat berjama’ah adalah cuaca yang dingin dan hujan. . .
(b)    Seorang muadzin ketika ada hal-hal di atas mengganti lafadz Hayya 'Alash Shalah dengan Shallu Fii Rihaalikum atau Shalluu Fii Buyuutikum. Tapi ada riwayat-riwayat lain yang juga shahih menjelaskan bolehnya menambahkan Shallu Fii Buyuutikum setelah Hayya Alal Falaah atau setelah adzan selesai. Semuanya boleh diamalkan (boleh memilih).

Tapi menurut Imam An Nawawi ra mengucapkannya sesudah adzan lebih baik agar lafadz adzan yang biasa diucapkan tetap ada, walau beliau tetap membolehkan untuk diucapkan di tengah-tengah adzan karena terdapat dalil mengenai dua model ini. (HR.Muslim)
. . menurut Imam An Nawawi ra mengucapkannya sesudah adzan lebih baik agar lafadz adzan yang biasa diucapkan tetap ada.
Imam an Nawawi dalam Syarh shahih Muslim juga menyebutkan lafadz lainnya,  di antaranya:
-    Alaa shalluu fir rihaal ;  (Hendaklah shalat di rumah -kalian-)
-    Alaa shalluu fi rihaalikum ;  (Hendaklah shalat di rumah kalian)
-    Shalluu fii buyuutikum ;  (Shalatlah di rumah kalian)

(c)    Meninggalkan shalat berjama'ah di masjid (saat ada udzur hujan) dibolehkan baik pada saat muadzin mengumandangkan Shallu Fii Rihalikum ataupun tidak mengumandangkannya.

(d)    Shalat di rumah saat ada alasan yang disyariatkan itu hukumnya boleh-boleh saja dan bukan wajib. Oleh karena itu Bukhari memberi judul bab dalam shahihnya, kitab adzan bab 40, bab : "Dibolehkannya shalat di rumah karena hujan atau sebab yang lainnya".

Al-Hafidz Ibnu Hajar ra dalam Fathul Baari 3/157 berkata (mengomentari judul bab shahih Bukhari di atas, pent) : "Imam Bukhari menyebutkan (atau sebab yang lainnya) karena ini lebih umum dari pada hanya disebutkan karena hujan saja. (Dibolehkannya) shalat di rumah itu sebabnya lebih umum dari pada hanya karena hujan atau semisalnya. Dan shalat di rumah kadang bisa dengan berjama'ah atau sendirian, meskipun kebanyakan dengan sendirian. (Karena) hukum asal shalat berjama'ah itu dilakukan di masjid".
"Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur (alasan) syar'i."
al Hadits
Dan yang menguatkan akan hal ini semuanya adalah keumuman sabda beliau saw : "Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur (alasan) syar'i." (HR.Ibnu Majah) Tidak diragukan lagi bahwa hujan dan yang semisalnya itu merupakan udzur. Wallahu alam.

Badrul Tamam
Maraji':
  1. Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby, Ahkamusy Syitaa' Fis Sunnatil Muthahharah.
  2. Muhammad Abduh Tuasikal , Musim Hujan Telah Tiba, Buletin At Tauhid edisi VI/05.
  3. Muhammad Abduh Tuasikal , judul: Ada yang Sedikit Berbeda pada Adzan Ketika Turun Hujan.
  4. Majalah Nida' al Islam, Ahammiyah Shalah al Jama'ah, diunduh dari Situs Mimbar at Tauhid wa al Jihad.

Hadirnya Wanita Di Masjid dan Keutamaan Shalat Wanita Di Rumahnya
Para wanita boleh pergi ke masjid dan ikut melaksanakan shalat berjama'ah dengan syarat menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah, seperti mengenakan perhiasan dan menggunakan wangi-wangian. Rasulullah saw bersabda: "Janganlah kalian melarang para wanita (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak memakai wangi-wangian." (HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)

Dan beliau saw juga bersabda:"Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, maka janganlah dia ikut shalat Isya' berjama'ah bersama kami." (HR. Muslim)

Pada kesempatan lain, beliau juga bersabda:"Perempuan yang mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian dia pergi ke masjid, maka shalatnya tidak diterima sehingga dia mandi." (HR. Ibnu Majah, hadits shahih)
Rasulullah saw juga bersabda:"Jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) dimasjid, namun rumah mereka sebenarnya lebih baik untuk mereka." (HR.Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, hadits shahih)

Dalam sabdanya yang lain:"Shalat seorang wanita di salah satu ruangan rumahnya lebih utama daripada di bagian tengah rumah"

INDAHNYA  HIDUP BERJAMA’AH
Siapapun dan dimanapun orangnya, pasti berharap hidup bahagia. Akan tetapi tidaklah semua orang dapat meraih kebahagiaan tersebut. Kecuali, bila semua orang merujuk pada uswah dan qudwah kita, yakni Rasulullah saw, maka insya Allah kita akan mendapat kebahagiaan hakiki. Hal ini karena sesungguhya, menurut tuntunan Allah dan Rasul, kebahagiaan yang hakiki bukanlah terletak pada berlimpah ruahnya harta dan berbagai kesenangan fisik, akan tetapi sejauh mana kita dapat ridla dan husnuzhan (berbaik sangka) pada Allah Yang Maha Memiliki segalanya. Atas dasar inilah beliau menyebutkan ;“ Bukanlah orang yang kaya dari banyaknya harta / barang (dunia), akan tetapi yang kaya itu adalah kaya jiwa (hati). (HSR. Bukhari-Muslim)

Keluarga bahagia adalah miniatur sebuah masyarakat bahagia. Di dalamnya ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Suami dalam rumah tangga laksana Imaam dalam kehidupan masyarakat Islam, sedang istri dan anak-anak, laksana Ma’mum / anggota masyarakat itu sendiri.
Kehidupan berjama’ah adalah pola kehidupan yang secara sunatullah telah menjadi kebutuhan setiap makhluq hidup. Karena secara fitrah, selain Allah sebagai sang khaliq adalah makhluq. Ia tidak bisa hidup sendiri tanpa yang lain. Sebagai pewaris bumi ini, manusia yang mendapat amanah untuk memakmurkan bumi Allah, tentu tak mungkin hidup sendiri. Dari sinilah semestinya semua orang menyadari bahwa tak ada yang patut kita sombongkan dan dibanggakan. Kita semua adalah lemah dan hina di sisi Allah.

Kita sebagai manusia yang lemah perlu pertolongan pihak lain. Karena itulah Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kita untuk hidup berjama’ah, mewujudkan kerja sama, menghindari perpecahan dan permusuhan sesama saudara muslim. Allah berfirman : ” Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah seraya berjama’ah dan janganlah kamu berpecah-belah. ” (QS Ali Imran : 103)

Menghidupkan suasana Indahnya Kebersamaan, Indahnya hidup terpimpin, dan tertib dalam ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Ibarat Shalat berjama’ah yang lebih bernilai 27 derajat dibandingkan shalat munfarid/sendiri. Seperti keluarga yang memiliki kepala keluarga, Laksana  Tata Surya di angkasa, Sang Imaam Matahari dikelilingi oleh  ma’mum sembilan planet yang berputar pada rotasinya.

Rasulullah SAW. dan para sahabatnya, adalah contoh kongkrit  tentang bagaimana mewujudkan Islam yang penuh rahmat untuk seluruh alam ini. Kehidupan mereka penuh dengan cinta dan kasih sayang, saling memperhatikan satu sama lain, saling melindungi, saling mewasiati dalam kebenaran dan kesabaran.

Kehidupan seperti itulah yang kita rindukan dalam keluarga dan masyarakat kita, yakni kehidupan terpimpin,  saling  menolong, tegaknya amar ma’ruf nahyi munkar, menegakkan sholat, menunaikan zakat dan optimal mentaati Allah dan rasul-Nya dengan penuh keikhlasan.  Allah menjanjikan surga yang penuh kenikmatan kepada mereka yang hidup rukun dan berjama’ah dalam tuntunan-Nya dan meneladani rasul-Nya. Wallahu a’lam bish showwaab


Abu Wihdan, alias Wahyudi KS.
Oleh : Abu Wihdan Hidayatullah

Solat Berjemaah dalam Sudut Pandangan Sains
Seorang professor fisika di Amerika Serikat telah membuat satu kajian tentang kelebihan shalat berjamaah yang disyariatkan dalam Islam. Katanya tubuh kita memiliki dua muatan listrik yaitu muatan positif dan muatan negatif. Dalam aktivitas harian kita apakah bekerja, beribadah atau beristirahat, sudah tentu banyak energi digunakan.
Dalam proses pembakaran tenaga, banyak terjadi pertukaran cas positif dan cas negatif, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh kita.
Ketidakseimbangan cas dalam badan menyebabkan kita merasa letih dan lesu setelah menjalankan aktivitas seharian. Jadi cas-cas ini perlu diseimbangkan kembali untuk mengembalikan kesegaran tubuh ke tingkat normal.
Terkait dengan shalat berjamaah, timbul persoalan di pikiran professor ini mengapa Islam mensyariatkan sholat berjemah dan mengapa shalat lima waktu yang didirikan orang Islam memiliki jumlah rakaat yang tidak sama.
Hasil penelitiannya menemukan bilangan rakaat yang berbeda dalam shalat kita bertindak menyeimbangkan cas-cas dalam badan kita. Saat kita shalat berjamaah, kita disuruh meluruskan shaf, bahu bertemu bahu dan bersentuhan tapak kaki. Tindakan-tindakan yang dianjurkan saat shalat berjamaah itu memiliki berbagai kelebihan.
Penelitian ilmiah menemukan sentuhan yang terjadi antara tubuh kita dengan tubuh peserta lain yang berada di kiri dan kanan kita akan menstabilkan kembali muatan-muatan yang dibutuhkan tubuh. Ia terjadi ketika pengisian yang berlebihan - apakah negatif atau positif akan dikeluarkan, sementara yang berkurang akan ditarik ke dalam kita. Semakin lama pergeseran ini terjadi, semakin seimbang cas dalam tubuh kita.
Menurut beliau lagi, setiap kali kita bangun dari tidur, badan kita akan merasa segar dan sehat setelah beristirahat beberapa jam. Ketika ini tubuh kita memiliki muatan-muatan positif dan negatif yang hampir seimbang. Jadi, kita hanya membutuhkan sedikit lagi proses pertukaran cas agar keseimbangan penuh dapat dicapai. Sebab itu, shalat Subuh didirikan 2 rakaat.
Selanjutnya, setelah sehari kita bekerja berat dan memeras otak semua cas ini kembali tidak stabil akibat kehilangan cas lebih banyak dari tubuh. Karena itu, kita membutuhkan lebih banyak pertukaran cas. Shalat jamaah yang disyariatkan Islam berperan untuk memulihkan keseimbangan cas-cas tersebut. Sebab itu, shalat Dzuhur didirikan 4 rakaat untuk memberi ruang yang lebih kepada proses pertukaran cas dakam tubuh. Situasi yang sama juga terjadi di sebelah petang. Banyak energi dikeluarkan ketika menghubungkan kembali tugas. Ini menyebabkan sekali lagi kita kehilangan muatan yang banyak.
Seperti shalat Dzuhur, 4 rakaat shalat Ashar yang dikerjakan akan memberikan ruang kepada proses pertukaran cas dengan lebih lama. Biasanya, setelah waktu Ashar dan pulang dari kerja kita tidak lagi melakukan aktivitas yang banyak menggunakan energi. Waktu yang ditetapkan pula tidak begitu lama. Maka, shalat Maghrib hanya dikerjakan sebanyak 3 rakaat adalah lebih sesuai dengan penggunaan energi yng kurang dibandingkan 2 waktu sebelumnya.
Timbul pertanyaan di pikiran professor itu tentang sholat Isya yang mengandung 4 rakaat.Logiknya, pada waktu malam kita tidak banyak melakukan aktivitas dan sudah tentu tidak membutuhkan proses pertukaran cas yang banyak.
Setelah penelitian lebih lanjut, ditemukan ada keistimewaan mengapa Allah mensyariatkan 4 rakaat dalam shalat Isya. Telah kita ketahui, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidur awal agar mampu bangun menunaikan tahajjud di sepertiga malam. Singkatnya, shalat isya sebanyak 4 rakaat itu akan menstabilkan cas dalam badan dan memberikan energi untuk kita bangun malam (qiamullail).
Dalam penelitiannya, professor ini memberikan Islam adalah satu agama yang lengkap dan khusus. Segala amalan dan perintah Allah Taala itu memiliki hikmah yang tersirat untuk kebaikan umat Islam itu sendiri. Ia merasakan betapa kerdilnya diri dan betapa hebatnya Pencipta alam ini. Akhirnya, dengan hidayah Allah beliau memeluk agama Islam.

Labels: Tazkirah